![]() |
| Siswa belajar dengan kondisi seadanya |
Sidoarjo - Tidak ada riuh tawa murid baru ataupun kesibukan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SD Kupang IV, Dusun Kalialo, Desa Kupang, Kecamatan Jabon, Sidoarjo, Jawa Timur. Di sekolah yang berdiri di tengah kawasan tambak itu, tahun ajaran 2026/2027 dimulai dalam suasana sunyi. Tak satu pun siswa baru mendaftarkan diri.
Di balik kesunyian tersebut, masih ada 12 anak yang setiap hari datang membawa harapan. Mereka tetap belajar di sekolah sederhana yang kondisinya jauh dari kata layak, demi mengejar cita-cita di tengah keterbatasan.
Saat ini SD Kupang IV hanya memiliki 12 siswa yang tersebar di kelas II hingga kelas VI. Tidak ada murid di kelas I. Meski demikian, proses belajar mengajar tetap berlangsung. Tiga ruang kelas dipakai bergantian untuk dua jenjang kelas sekaligus dengan pendampingan delapan guru dan seorang kepala sekolah.
Jumlah siswa yang terus menyusut tidak lepas dari kondisi Dusun Kalialo yang hanya dihuni sekitar 60 kepala keluarga. Mayoritas warganya bekerja sebagai buruh tambak dan buruh pemetik hasil laut, sehingga jumlah anak usia sekolah dasar sangat sedikit.
Untuk mencapai SD Kupang IV, warga harus menempuh perjalanan sekitar 45 menit dari pusat Kecamatan Porong. Setelah jalan beraspal berakhir, perjalanan dilanjutkan melewati jalan makadam sempit dan bergelombang yang membelah hamparan tambak.
Para siswa belajar di bangunan yang sudah termakan usia. Sejumlah dinding papan tampak lapuk dan berlubang, sementara atap dua ruang kelas mengalami kerusakan. Saat hujan turun, air masuk ke dalam kelas sehingga kegiatan belajar sering terganggu.
Di tengah keterbatasan itu, para siswa juga belum merasakan manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pihak sekolah mengaku telah mengusulkan agar sekolah tersebut masuk dalam program, namun hingga kini belum terealisasi. Sulitnya akses menuju lokasi diduga menjadi salah satu kendala.
Bagi Muhammad Hafis Amrizal, siswa kelas V, kondisi sekolah bukan alasan untuk berhenti belajar. Meski belum mendapatkan program MBG dan terkadang dibayangi dengan banjir ROB, ia tetap belajar dengan kondisi apa adanya.
"Saya ke sekolah naik sepeda, kalau terjadi banjir rob ya tetap bersekolah," ujarnya.
Guru SD Kupang IV, Solekan Tabib, mengatakan para guru berupaya mempertahankan keberadaan sekolah agar anak-anak di kawasan tambak tetap memiliki akses pendidikan.
"Di sini memang tergolong sekolah 3 T, (tertinggal, terdepan, terluar), dan disini merupakan daerah terpencil," kata Solekan.
Pihak sekolah juga berharap, di tengah proses belajar mengajar dengan jumlah siswa terbatas itu, program MBG bisa menjangkau sekolah di tempat terpencil itu. Karena menurut sekolah, kondisi anak-anak sekolah dinilai sangat layak untuk mendapatkan program MBG.
Tags
Pendidikan - Budaya
