Kasus HIV Relatif Stabil, Dinkes Sidoarjo Perkuat Edukasi dan Terapi ARV



Sidoarjo – Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo terus memperkuat pengendalian HIV melalui edukasi, deteksi dini, pendampingan pasien, dan terapi antiretroviral (ARV). Langkah tersebut dilakukan karena tren penambahan kasus baru setiap tahun dinilai relatif stabil, meski jumlah kasus kumulatif terus meningkat.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, dr. Rahmi Alfiyanti NK, didampingi Pengelola Program HIV/AIDS dan IMS, Unsiyyatul Usriyyah, S.Kep., Ns., mengatakan hingga akhir 2025 jumlah kumulatif kasus HIV di Sidoarjo mencapai lebih dari 6.000 kasus. Hingga Mei 2026, jumlah tersebut mendekati 7.000 kasus.

"Yang perlu menjadi perhatian bukan angka kumulatif, melainkan tren penambahan kasus baru setiap tahun yang berkisar sekitar 600 kasus dan secara umum relatif stabil," ujarnya saat dikonfirmasi wartawan, Rabu (08/07/2026).

Menurut Rahmi, pengendalian HIV dilakukan melalui pendekatan promotif, preventif, dan kuratif. Edukasi kepada masyarakat, skrining bagi kelompok berisiko, penelusuran kasus, pendampingan pasien, hingga pemberian terapi ARV terus diperkuat agar penularan dapat ditekan.

"Kami mengarahkan seluruh pasien yang terdiagnosis HIV agar rutin menjalani terapi ARV sehingga viral load tetap terkontrol. Dengan begitu, risiko penularan kepada pasangan maupun dari ibu kepada bayi dapat ditekan," jelasnya.

Selain pelayanan kesehatan, Dinas Kesehatan juga memperkuat koordinasi lintas sektor bersama perangkat daerah, instansi pendidikan, dan Kementerian Agama. Upaya tersebut antara lain melalui edukasi di lingkungan pendidikan serta penyampaian materi pencegahan HIV dalam konseling calon pengantin.

Rahmi menegaskan pemeriksaan HIV bagi calon pengantin bukan menjadi penghalang untuk menikah.

"Jika hasil pemeriksaan menunjukkan positif HIV, bukan berarti pernikahan tidak dapat dilanjutkan. Yang terpenting adalah menjalani terapi ARV secara rutin agar risiko penularan dapat diminimalkan," katanya.

Ia juga mengajak masyarakat menghilangkan stigma terhadap orang dengan HIV dan tidak ragu melakukan pemeriksaan apabila merasa memiliki faktor risiko.

"HIV bukan ukuran moral seseorang. Deteksi dini, kepatuhan menjalani pengobatan, dan dukungan masyarakat menjadi kunci pengendalian HIV ," pungkasnya.
Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال